Sinopsis Gangaa episode 346 by Meysha Lestari. Gangaa berkeras tidak mau melarang Prabha memotong rambutnya. Tak peduli jika itu artinya dia harus melanggar adat dan aturan. Prabha mengecam perbuatan Gangaa, tapi dia sendiri tidak pasti apa yang dia inginkan. Semua orang hanya berdiri diam menyaksikan dengan wajah tegang..
Malamnya, Gangaa berdiri termenung di balkon. Dia teringat kenangan masa kecil ketika dia menjadi janda. Orang memaksa dia memecahkan gelangnya dan hendak memotong rambutnya. Gangaa ingat bagaimana dia menendang perut pendeta yang akan memotong rambutnya. Mengingat itu semua Gangaa menitikkan airmata. Sagar datang menghampirinya. Gangaa mengusap airmatanya. Sagar bertanya, "ada masalah apa? Apakah kenangan masa kecil menghantuimu?" Gangaa menatap Sagar dengan kaget, "bagaimana kau bisa tahu?" Sagar meraih tangan Gangaa dan menempelkan tangan itu di dadanya sambil menjawab, "seperti dirimu yang bisa merasakan setiap tarikan nafasku, aku juga bisa memahamimu..." Sagar tersenyum pada Gangaa. Gangaa balas tersenyum. Sagar meraih memegang kedua pipi Gangaa lalu mencium keningya. Gangaa tersipu malu.
Sagar memberitahu Gangaa kalau Supriya telah memberitahu dirinya tentang bagaimana Gangaa menghentikan Prabha dari memotong rambut, "aku bangga padamu.." Gangaa menyahut, "aku merasa ringan setelah melakukan itu..." Sagar menggoda, "...aku harus mengangkatmu untuk membuktikan betapa ringannya dirimu.." Gangaa menola, "tidak Sagar." Sagar memaksa setengah mengoda. Gangaa menolak sambil melangkah masuk kedalam. Sagar membuntutinya sambil terus membujuknya agar mau di bopong...
Setelah 14haris ejak kematian Ratan, Prabha tinggal di rumah Chaturvedi. Nenek keluar dari kamarnya dengan marah-marah. Madhvi dengan wajah tegang bertanya, "ada apa bu?" Nenek berkata kalau dirinya terpaksa menerima Prabha di rumahnya, "aku mengeri dai janda, tapi bukan berarti dia akan tinggal dirumahku selamanya. kapan kkra-kira dia akan pergi?" Madhvi menghampiri nenek dan bertanya setengah berbisik, "ibu, kemana dia akan pergi? Dia tak punya siapa-sipa selain kita." Nenek balik bertanya pada mahdvi, "apakah kita bertanggung jawab atas hidupnya? Dia tidak memberitahu kita apa yang boleh dan yang tidak boleh kita lakukan.." Mahdvi meminta nenek bicara pelan, "Prabha memang tidak bicara dengan jelas, tapi bukan berarti dia salah.." Nenek menyela dengan sengit, "aku tida percaya dengan niatnya. Dia tak boleh tinggal disini, karena membiarkan dia di sini sama saja dengan memelihara seekor ular yang bisa mematuk kmita kapan saja.."
Prabha yang berdiri di bawah tangga mendengar semua kata-kata nenek. Dia terlihat shok. Madhvi tertgun mengetahui kehadiran Prabha. begitu pula yang lain-lain. Madhvi memanggil nenek dan memberinya isyarat kalau ada Prabha. Nenek menatap Prabha dengan tajam, lalau beranjak masuk kemarnya tanap menyapa Prabha. Madhvi measa tidak enak dengan situasi yang sedang mereka hadapai. Diamenghampoir Prabha dan meminta maaf atas nama nenek. Prabha pura-pura merasa sedih dan berkata, "aku hanya membuat keburukan, akan lebih baik kalau aku pergi dari sini. Aku pasti akan pergi..."
Gangaa coba menenagkan Prabha dan membuatnya mengerti, "kata-kata nenek mungkin menyakitkan, tapi dia tidak bermaksud buruk. Kalau selama ini bibi tidak pernah menganggap nenek salah, lalu mengap ahari ini? Lama-lama nenek akan menyukaimu... sama seperti dia menyukaiku.." Supriya juga ikut berkata, "bibi harus coba memenangkan kepercayaan nenek suatu hari nanti..." Prabha mengangguk, "ya. AKu akan coba melakukan apapun untuk membuat nenek menyukaiku.." Madhv tersenyum senang. Setelah berkata begitu, Prabha masuk kembali ke kamarnya.
Sagar memencet klakson mobil sambil berteriak memanggil Gangaa. Supriya mengingatkan Gangaa kalau Sagar menunggu untuk mengantarnya ke kolej, "pergilah..." Gangaa mengangguk. Setelah berpamitan pada Mahdvi dan Supriya, Gangaa bergegas keluar. Sagar menegur Gangaa karena terlambat. Tapi omelannya terhenti saat melihat wajah tegang Gangaa dan bertanya, "ada apa?" Gangaa memberitahu Sagar tentang Prabha dan kesepian yang di deritanya, "semua ini tidak biasa baginya.." Sagar mengangguk, "ya. Semua peraturan ini sangat sulit baginya.." Gangaa setuju, "aneh rasanya melihat dia seperti itu.." Sagar melihat wajah serius Gangaa dan berniat untuk menganggunya, "kalau kau pasti tidak bisa melakukan itu. Kau sangat suka sekali makan...jalebi dan Samosa..." Gangaa menyangkal. Sagar terus menuduhnya. Keduanya lalu terlibat pertengkaran kecil dan saling tantang. Gangaa berkata kalau dirinya bisa melakukan apapun. Sagar bertanya, "benarkah? Gangaa mengiyakan. Sagar menyuruh Gangaa menyetir mobil, saat itu. Dia pura-oura henak turun. Gangaa terpenrangah kaget dan cepatc-epat menahan tangan Sagar, "tapi aku tidak bisa menyetir Sagar." Sagar menggoda, "jadi kau tidak bisa?" Gangaa menggangguk, "kalau begitu kau harus belajar."
