Sinopsis Gangaa episode 347 by Meysha lestari. Gangaa menghampiri nenek dengan wjah prihatin dan memintanya agar tidak khawatir. Nenek menyahut, "bagaimana tidak khawatir, nak. Aku tidak bis amengumpulkan uang untuk membayar hutang.." Gangaa menyarankan agar mendiskusikan masalah itu dengan keluarga. Nenek merasa enggan. Gangaa memaksa, "kita adalah satu keluarga... susah senang di pikul bersama..." Prabha muncul sambil membawa nampan makanan. Dia mendengarkan percakapan Gangaa dan nenek. Nenek melirik Prabha dengan tatapan tak suka. Prabha tahu diri, dia tdiak menyela pembicaraan mereka tapi hanya berdiri mematung sambil memegangi nampan.
Sagar datang untuk mengajak Gangaa, "..Ragini sudah menungguh terlalu lama.." Nenek menanyai Sagar, "Siapa Ragini?" Sagar lalu mengajak nenek untuk melihat dan berkenalan dengan Ragini. Nenek tidak menolak. Sagar menuntun nenek keluar kamar di ikuti Gangaa. Prabha mengingatkan akan makanan yang di bawanya. Nenek menyuruhnya menyimpannya di atas meja dulu. Sagar mengajak juga mengajak Prabha. Prabah hanya tersenyum, tapi tidak membuntuti mereka. Di amalah masuk ke kamar nenek dan meletakkan nampan makanan dia tas meja lalu menatapke pintu dengan tatapan menyelidik.
Di kamarnya, Sagar memperkenalkan Ragini pada Madhvi dan Nenek. ragini dengan malu-malu memberi salam pada Madhvi lalu menyentuh kakinya. Madhvi membantu ragini bangkit dan memberkatinya. Bukan hanya itu, Madhvi menyapa Ragini dengan penuh ramah dan mencium keningnya. Setelah itu Sagar memperkanalkan nenek. Ragini menyentuh kaki nenek. Nenek dengan dingin memberkati Ragini lalu minta izin untuk pergi istirahat. Sagar dengan ras aingin tahu bertanya, "tidak nenek, nenek kenapa?" Nenek menjawab kalau dirinya tidak apa-apa, hanya sedikit letih saja. Lalu tanpa menunggu sahutan siapapun, nenek bergegas pergi. Gangaa yang tahu situasi yang tengah di hadapi nenek hanya menatap dengan kepergiannya dengan cemas. Gangaa pamit pada Sagar, "aku akan menemani nenek.." Sagar mengangguk.
Mahdvi bertanya tentang orang tua Ragini pada Sagar. Sagar memberitahu kalau Ragini sepertinya kabur dari rumah dan Rudra tida tahu tentang itu. Sagar bertanya tentang nomor telpon Rudra. Madhvi menyuruh Sagar menyarinya di buku Telpon yang ada di ruang kerja Niru. Tanpa membuang waktu lagil, Sagar bergegas pergi. Madhvi mengamati Ragini yang asyik melihat-lihat foto keluarga yang terantung di dinding.
Prabha masuk keruang kerja Niru lalu menutup pintunya. Dengans embunyi-sembunyi takut ketahuan, dia menelpon penjara dan minta agar di izinkan bicara dengan anaknya, Yash. Inspektur polisi menyuruh Sipir penjara membawa yash. yash datang, Inspektur berkata, "ibumu ingin bicara denganmu." Dengan enggan Yash menerima telpon itu, "halloo..." Prabha terharu mendengar suara anaknya. Prabha mengungkapkan kerinduannya pada Yash. Dia menanyakan keadaan dan kabar Yash. Yash tidak begitu senang dengan telpon Prabha. Prabah memberitahu Yash kalau hidupnya sendiri tidak berbeda dengan keadaan Yash di penjara, "dan kita berdua akan di siksa selama 14 tahun. Kita sama-sama ada dalam penjara. Bedanya kau di penjara sebenarnya sementara aku terpenjara di rumah besar Chaturvedi. Tapi kali ini aku datang kerumah itu denga motif yangs angat besar yaitu untuk menghancurkan keluarga ini. AKutida akan mengampuni mereka semua setelah aku berhasil mendapatkan kepercayaan mereka. Karena aku ingin membalas dendam untukmu dan atas kematian ayahmu..." tiba-tiba Sagar muncul dan menyapa Prabha. Prabah lalu mengganti topik pembicaraan dan pura-pura tertawa lalu memutuskan sambungan. Sagar bertanya, "bibi menelpon siapa?" Prabha mengatakan kalau dirinya menelpon relatif. Sagar meski sedikit heran tapi tidak bertanya lebih jauh. Lalu Prabha permisi dengan terburu-buru. Sagar mengangguk. Lalu Sagar coba menemukan no telpon Rudra di buku telpon... Sagar menatap catatan di buku telpon itu dnegan tatapan heran sambil beruman, "bagaimana ini mungkin?"
Di kamarnya, Nenek mengeluarkan kota uangnya dan coba enghitungnya. Dia beruman sendiri, "darimana aku akan mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar pinjaman?" Sagar dan Gangaa datang. Ganga menyodorkan sebuah saputangan yang isinya uang. Gangaa berkata kalau itu adalah kontribusi mereka untuk membantu nenek membayar hutangnya kembali. Namun begitu uang yang terkumpul masih belum cukup untuk membayar pinjaman yang harus di bayar nenek. Sagar meminta nenek agar tidak menolak bantuan mereka, "kami hanya bisa mengumpulkan sebanyak ini untuk nenek. Aku tidak bisa menolong lagi karena Yash telah mengambil semua uang di rekeningku..." Gangaa berkata kalau mereka masih butuh 20 ribu lagi.
Prabah berdiri di pintu dan mendengar kata-kata Sagar. Nenek yang pertama melihat kehadiran Prabha menatapnya dnegan tegang. Melihat itu, Ganga dan Sagar menoleh ke arah Prabha. Prabha maju ke hadapan nenek dan menyodorkan kantung merah di tanganya yang berisi perhiasan dan uang, "aku seharusnya menebus dosa atas kejahatan yang di lakukan Yash. Meski ini cuma sedikit, aku tetap akan membayarkan. Karena aku tidak lagi tertarik dengan perhiasan ini, karena aku janda.." Gangaa melarang Prabah berkata begitu. Prabah mengatakan kalau dirinya memberikan semua perhiasan dan uangnya agar nenek bisa membayar pinjamannya. Nenek menatap Prabha dnegan tatapan curiga. Gangaa mengembalikan kantung itu pada Prabha dan berkata, "bahkan jika kami mengambil perhiasan dan uang bibi, yang tidak akan kami lakukan, kami masih tetap tidak bisa melengkapi pembayaran."
Nenek setuju dengan kata-kata Gangaa, "Gangaa benar. Kami tidak bisa menerima uang darimu karena kami belum pernah membungkuk begitu rendah hingga harus meminta bantuan keuangan dari menantu saudara. Sebaiknya kau simpan sendiri uang dan perhiasanmu itu.." Gangaa meminta agar Prabha tia salah paham. Prabah berkata, "aku selalu bersama kalian. Bahkan setelah hidup begitu susah. Jika mungkin, aku hanya ingin membantu kalian. Dan jika kalian tak mau mengambilnya, tidak apa. AKu akan menyiopan semua ini sebagai barang berharfa kalian. Kapanpun kalian membutuhkan, kalian bisa memintanya dan aku akan memberikannya pada kalian." Setelah berkata begitu, Prabha bergegas pergi.
Sagar dan Gangaa terharu melihat apa yang coba di lakukan Prabha. tapi tida dengan nenek. Nenek berkata, "aku sama sekali tak percaya pada janda Ratan itu." Sagar coba menyakinkan nenek kalau Prabha telah berubah dan tidak akan memendam niat jahat pada merka. tapi nenek tidak terpedaya, "aku tidak akan pernah bsia mempercayai perempuan ini. Yang bisa berganti warna dengan sangat mudah seperti bunglong.." Sagar dan Gangaa menatap nenek dengan tegang.
Malam harinya, Prabha tidur di tempat tidur di samping nenek. Ketika nenek sudah lelap dan memunggunginya, Prabha bangun dengan diam-diam. Dia turun dari tempat tidurnya dan menatap kunci lemari nenek yang tergeletak di samping bantal. Prabha hendak mengambil kunci itu, tapi nenek mengalihkan badan menatap kearah Prabha. Prabah kaget dan mengurungkan niatnya. Nenek kembali terlelap. Prabah berhasil mengambil kunci nenek dan menyerigai licik.
Di kamarnya, Gangaa terlihat duduk sambil belajar. Ada banyak tumpukan buku di depannya. Tapi pikirannya tidak fokus padapelajaran tapi pada bagaimana caranay bisa mengumpulkan uang untuk membantu nenek membayar hutang. Sagar muncul dan mengulurkan segelas susu, "ini..minumlah! Kau membutuhkannya.." Gangaa menggeleng. Sagar meletakan gelas susu itu di meja lalu duduk di depan Gangaa.
