Sinopsis Gangaa episode 373 by Meysha Lestari

Sinopsis Gangaa episode 373 by Meysha Lestari. Gangaa masih mendebat keputusan dewan komite yang dianggap tidak adil. Gangaa mengatakan kalau melahirkan bukanlah kejahaatan tapi sebuah pengalaman terbaik bagi seorang wanita, "bahkan tuhan sendiri yang menentukan ini, lalu bagaimana masyarakat bisa melarangnya?" Bu kepala coba menjelakan pada Gangaa bahwa sebagai anggota masyarakat dia harus mengikuti norma-norma yang ada di masyarakat.

Gangaa tidak bisa menerima pendapat itu. Dia berdiri dari duduknya dan berkata, "sungguh menyedihnya melihat rasa kemanusiaan mati secara perlahan-lahan. Norma-norma sosial dan tadisi kuno telah mencekik orang-orang hingga sekarat. Saya ingin bertanya, apa arti pernikahan yang di lakukan demi kesucian agama? Jika bukan hubungan dua jiwa dan hati, jika pengorbanan dan komitmen adalah dasarnya, maka aku memang telah menikahi orang itu, yang adalah ayah dari anak ini. Dan jika norma sosial yang di yakini maka aku tidak menikah..." Sagar menatap Gangaa dengan takjub. Niru menjawab, "setiap orang berhak mengemukakan pendapat sendiri tapi kami di sini untuk menegakkan norma-norma sosial dalam masyarakat.."

Gangaa menyela, "norma soasial seharusnya berubah seiring waktu, dan saatnya sudah tiba. Emansipasi wanita telah di mulai, pemikiran wanita telah berkembang pesat. Mereka tidak lagi terpenjara dalam 4 dinding. Aturan baru yang lebih baik telah terbentuk sejak perubahan hanyalah satu-satunya yang pasti dalam hidup ini. Kalau ritual telah mengalami perubahan, mengapa hukum dan norma tidak ikut berubah? Karena tidak ada sesuatu yang selalu kontans..." Gangaa menanyakan mengapa mereka memerlukan bantuan untuk menilai seseorang? Mengapa penilaian bukan dari sudut pandang mereka sendiri.

Supriya menutup mulutnya dengan saputangan dan menyandar di sadnaran tempat tidur. Nafasnya memburu. Madhvi memutuskan untuk menelpon Pulkit. Pulkit yang sedang bekerja segera mengangkat telpon Madhvi. Madhvi memberitahu Pulkit tentang kondisi supriya yang terserang batuk-batuk. Pulkit terlihat cemas. Dia mengingatkan ibunya kalau dokter pribadi mereka  sedang keluar kota. Mahdvi mengatakan kalau ada darah dalam batuk Supriya. Pulkit terlihat cemas dan takut dan memutuskan untuk menghubungi dokter lain. Pulkit menyuruh ibunya bersiap-siap untuk membawa Supriya ke rumah sakit. Begitu telpon di tutup, Madhvi menyuruh Supriya tenang, karena dia akans egera mendapat perawatan di rumah sakit. Supriya menurut.

Ganga menutup kata-katanya dengan berkata, "saya telah mengatakan apa yang ingin saya katakan. Saya akan memasrahkan karierku di tangan anda semua dan akan menunggu keputusannya..." Gangaa semua orang satu persatu secara bergantian. Sagar terlihat tegang begitu juga Niru. Para anggota dewan mengangguk-angguk sambil saling berpandangan anatara satu sama lain. Gangaa lalu pamitan dan keluar dari ruang pertemuan di ikuti tatapan semua orang.

Mahvdi memanggil Maharaj ji menyuruhnya melakukan sesuatu. Tak berapa lama, Hp Madhvi berdering, Rudra yang menelpon. Dia mengatakan kalau dirinay akan meminta dokter pribadinya untuk datang kerumah Chaturvedi untuk memeriksa Supriya. Sepertinya Pulkit telah memberitahu Rudra tentang kondisi Supriya. Mahdvi memberitahsu Rudra tentang kondisi Supriya dengan wajah tegang dan meminta Rudra agar menyuruh dokter agar datang secepatnya. Rudra setuju. Setelah menutup telpo Rudram Madhvi menghubungi Pulkit dan memberitahu apa yang di katakan Rudra dan meminta agar Pulkit segera pulang kerumah. Setelah itu, Mahdvi berteriak memanggil Maharaj ji agar membawakan air hangat untuk Supriya.

Gangaa melangkah di koridor dengan wajah tegang dan binggung. Kata-kata Niru bergema di telinganya. Dirinya membandingkan Niru yang baru di temuinya di dalam ruang pertemuan dengan Niru yang selama ini selalu membelahnya. Sangat berbeda.

Di halam kampus, semua orang sedang menunggunya dnegan cemas. rahat Ma mondar mandir kesana kemari dengan wajah cemas. Begitu melihat Gangaa muncul, dia segera menghampirinya, "Gangaa.." Semua orang mengerumuni Gangaa. Rahat bertanya, "bagaimana? Apakah keputsuannya sudah di buat?" Gangaa memberitahu kalau dirinya sudah elakukan apa yang dianggapnya benar tanpa peduli dengan pendapat orang lain, "ini adalah ujian bagiku juga bagi mereka yang percaya padaku, pada pendapatku dan pada impianku."  Dolly bertanya, "ap ayandg ikatakan? Apakah mereka mengizinkan mu sekolah lagi di sini atau tidak?" Gangaa memberitahu mereka kalau dewan komite sedang berdiskusi dan mereka akan tahu keputsuannya taklama lagi. Media Massa masih meliputi insiden Gangaa secara live. Mereka membahas tentang karier gangaa dan bagaimana dia telah menjadi tonggak sejarah bagi generasi muda. Penyiar meminta pemirsanya agar menunggu keputusan dewan komite bersama-sama mereka.

Madhvi mondar mandir di ruang tamu dengan cemas dan tegang apalagi ketika telponnya pada Rudra tidak terhubung. Tak lama kemudian Pulkit datang. Dia juga terlihat tegang, tertekan dan putus asa. Mahdvi coba menenangkannya. tapi Pulkit seperinya terlalu tegang. Mahdvi meminta dia tenang demi kebaikan Supriya, karena Supriya sudahpun ketakutan dan akan down kalau melihat kondisi Pulkit seperti itu juga. Madhvi meminta Pulkit menata dirinya dan menyakinkan dirinya kalau tidak akan terjadi seusatu pada Supriya ataupun anaknya. Pulkit menurut dan bergegas pergi. Mahdvi coba menelpon Rudra. Kali ini telponnya tersambung. Madhvi menyuruh Rudra segera datang bersama dokternya. Rudra menurut.

Pulkit tiba di de[an kamar Supriya. Melihat Pulkit, Supriya hendak bangkit, tapi Pulkit melarangnya. Supriya dengan panik memberitahu kondisinya pad Pulkit, tentang batuk berdarahnya tentang komplikasi nya terhadap bayi mereka dam lain-lain. Pulkit coba untuk menenangkan SUpriya agar tidak takut dan panik, "semuanya akan baik-baik saja.." Supriya kembali batuk, dia menunjukan darah yang keluar bersama batuknya dengan wajah takut dan panik. Pulkit membelai pipi Supriya an memintanya agar tenang, "tenanglah..relax, dokter akan segera tiba. AKu tidak akan membiarkans esuatu terjadi padamu dan pada anak kita. Jika terjadi sesuatu, kita akan menghadapinya bersama.. okey? Jadi tolong tenanglah...." Pulkit menyentuhkan keningnya dengan kening SUpriya. Setelah SUpriya terlihat tenang, Pulkit meraih tubuhnya dan memeluknya.

PREV  1  2